BISNIS BERBASIS PATUNGAN Lebih lanjut tentang Mengapa Patungan?
 
Share on Facebook
 

Duit kecil beli barang BESAR. Ini dia filosofi patungan. Kita terbiasa koq dengan patungan. Patungan sewa bis. Patungan sewa vila. Patungan usaha kecil. Misalnya buka toko. Patungan berdua. Patungan bertiga. Sampe patungan sekelas buat beliin wali kelas hadiah pada saat bagi raport atau perpisahan.

Apa yang saya lakukan, bukan hal aneh. Hanya bobotnya saja lebih berat, lebih luas, dan ada visi misi kebersamaan, dalam usaha dengan sekup yang juga lebih luas. Insya Allah semua atas izin Allah.

Selama ini, kita juga sudah “patungan” dalam bentuk yang lebih bernilai dan jauh lebih bervisi misi. Misalnya patungan bikin masjid, patungan beli mobil ambulancer, patungan bikin klinik atau rumah sakit gratis, patungan bikin pondok pesantren, patungan nanggung anak-anak panti. Ya, patungan di sini maksudnya sedekah. Sedekah juga adalah bentuk lain patungan. Lebih misioner, lebih visioner. Sebab yang mengajak patungan, langsung Allah.

Perhatikan sekali lagi, yang ngajak patungan, di urusan sedekah, adalah Allah. Subhaanallaah. Maha Suci Allah. Sebab yang ngajak patungan adalah Allah, maka ya ga tanggung-tanggung tuh returnnya. Ga tanggung-tanggung balasannya. 10x lipat, sampe 700x lipat, hingga bahkan tak terhingga. Dengan puncak balasan dari Allah berupa surga, bebas dari neraka, hingga bisa melihat dan bertemu dengan Allah dan Rasul-Nya. Masya Allah.

Andai bisnis, usaha, dagang, bukan juga sebuah ibadah, dan keniscayaan yang harus dilakukan, saya pasti ngajaknya sedekah teruuuuuuuuuusssss. Insya Allah. Sebab emang ga ada yang bisa ngalahin bagi hasil dari Allah. Return of Investment (RoI) siapa yang bisa ngalahin RoI dari Allah? Ga ada. Kalaupun ada orang yang menawarkan return mencengangkan, justru harusnya curiga. Koq bisa ya? Darimana? Jangan-jangan dia hanya menipu. 5-10% perbulan saja udah mesti sangat hati-hati. Return segitu buat bisnis, sangat beresiko. Sedangkan sama Allah? 10x lipat, sampe 700x lipat plus plus, adalah per transaksi! Subhaanallaah dah! Allah mah ga ada lawan.

Tapi saya juga harus mengajar diri saya dan sahabat-sahabat saya untuk bekerja dan berusaha. Harus mengajar diri saya untuk berdagang, berusaha, berbisnis. Supaya ada ikhtiarnya. Bukan saja menunggu.

Dan adalah jadi plus-plus. Kita ikhtiar, entah itu kerja, atau usaha sendiri, lalu hasilnya buat sedekah. Itu artinya, kita dapat pahala seabrek-abrek. Pahala dari berbagai pintu. Bukan hanya pahala sedekah. Apalagi kerja dan usaha pun bisa dijadikan sebagai ibadah adanya. Satu garis dengan sedekah yang insya Allah merupakan juga salah satu ibadah. Yakni ibadah bekerja, ibadah berusaha, ibadah dagang, ibadah bisnis. Coba baca yang satu ini: ibadah sedekah. Satu garis.

Awali dengan bismillaah. Maka apapun perbuatan baik, jadi ibadah. Jadi lillaah. Untuk Allah. Sebab kita lakukan dengan nama Allah.
Semudah itu kerja dan bisnis bisa dijadikan ibadah. Sebab dilakukan dengan bismillaah. Dengan nama Allah. Maka kita pun masuk dalam atmosfir ilahiyyah. Ketuhanan. Bahwa di dalam ikhtiar kita, ada Allah. Perhatikan kewajiban kita, perhatikan larangan Allah, perhatikan atura-aturan-Nya. Misalnya, tidak boleh dilakukan kecurangan, tidak boleh dilakukan kesia-sia-an, tidak boleh kerja dan usaha di bidang yang haram, berperilaku haram, tidak boleh bermaksiat, jangan mengabaikan ibadah wajib: puasa Ramadhan, shalat, zakat… Yang artinya, jika pekerjaan dan usaha, berbenturan dengan hal-hal yang wajib, ya wajib kita mendahulukan yang wajib, dan minggir dulu untuk melaksanakan yang wajib. Rapat, berhadapan dengan waktu shalat, ya shalatlah dulu. Kalau engga, bismillaah nya ga terlalu bener. Begitu. Puasa Ramadhan, kerja, ya tetep puasa. Insya Allah, Allah berikan kekuatan super, buat yang punya iman super. Insya Allah.

Dan sebab dilakukan dengan bismillaah pula, maka hasil ikhtiar, berupa rizki, pun kita dedikasikan untuk Allah.
Bukan berarti melulu untuk sedekah. Tapi untuk Allah itu luas. Untuk Allah itu artinya ya gunakan rizki yang dihasilkan untuk hanya kebaikan-kebaikan. (Baca: penghasilan, uang, duit. Sebab rizki itu hakikatnya banyak. Bisa kerja dan usaha, baik berhasil maupun engga, ya itu udah rizki. Coba kalo dikasih sakit? Sedang sakit juga rizki. Selalu disebut rizki buat mereka yang baik sangka pada Kehendak Allah).

Atas dasar ini pulalah, saya mencoba tidak hanya menyeru diri saya dan jamaah untuk sedekah saja, lalu kemudian mengabaikan ikhtiar; kerja dan usaha. Kita “serakahin diri” mengejar sebanyak-banyaknya pintu ibadah dan kebaikan. Termasuk ibadah yang namanya bisnis, usaha, dagang.

Akhirnya, atas bimbingan Allah jua-lah, kepikiran oleh saya, atas izin-Nya, untuk menggulirkan ide PatunganUsaha dan PatunganAset. Berangkat dari konsep: Duit kecil beli barang BESAR.

Teringat oleh saya, sekitaran tahun 1991, masyarakat muslim patungan mendirikan Bank Islam pertama di Indonesia. Dan alhamdulillaah, ratusan ribu orang, bersatu. Membeli saham yang jumlahnya sangat terjangkau saat itu, relatif sekitar 5rb-an rupiah per saham. Dan berdirilah Bank Islam pertama tersebut.

Cukup menarik konsep patungan ini. Ini ekonomi kerakyatan. Ekonomi gotong royong. Ekonomi asli Indonesia.
Dengan konsep patungan, kita bisa menyelamatkan aset dan usaha-usaha strategis untuk tidak dimiliki oleh kelompok tertentu, segelintir orang, atau malah dimiliki asing. Kepemilikan mutlak tetap milik Allah. Tapi manfaatnya jadi bisa dinikmati oleh orang banyak, sebab “pemilik” dari peluang usaha dan atau aset dimiliki oleh orang banyak.

Dunia telco misalnya. Ga perlu dijual kepada siapapun. Jual saja, tawarkan saja, langsung, ke penggunanya. Mau ga memiliki perusahaan telco di mana kartunya itu dipakai? 1 perusahaan telco, jumlah pelanggannya, masya Allah, puluhan juta. Bahkan ada yang lebih dari 100jt. Bisa dibayangkan jika kemudian ditawarkan perusahaan itu untuk dimiliki bersama oleh para penggunanya. Tentu sumber dana yang masya Allah juga. Ga perlu dijual kepada asing, dan atau tadi, sekelompok kecil saja.
Tapi ya ini perlu “political will” (kemauan) yang “Indonesianis” dari punggawa-punggawa bisnis. Karena biasanya, nafsu memiliki lebih tinggi, lebih besar, ketimbang men-share nya menjadi milik bersama.

Di dunia transportasi misalnya, saya bisa mencontohkan pula. 1 perusahaan besar di bidang transportasi darat, yang swasta, bisa mengangkut ratusan ribu orang per bulan. Perusahaan menengah saja, perusahaan bis misalnya, dengan armada 1000 misalnya, sudah bisa mengangkat sedikitnya 60rb orang per hari. Dengan hitungan bis 60 seat. Apa itu artinya? Permodalan apa yang dibutuhkan oleh perusahaan tersebut? Cukup dia menawarkan peluang usahanya kepada semua penumpangnya, beres dah urusan permodalan.

Transportasi udara, pesawat. Satu maskapai penerbangan di Indonesia, ada yang mencapai 17 juta penumpang per tahun. Subhaanallaah jika diajak untuk ikut memiliki, pasti lah berebut. Dimudahkan keikutsertaannya. Dibuat simpel. Pasti menarik.
Saya bukan ahli keuangan. Bukan pula ahli ekonomi. Saya ga ngerti aturan-aturan yang ada di urusan patungan ini. Saya hanya berpikir, kalo bener-bener mau, maka Indonesia, dengan segala potensi ekonominya, bisnisnya, bener-bener akan dinikmati oleh masyarakat luas seluas-luasnya.

Andai di era 70-an, 80-an, 90-an, bahkan di awal-awal tahun 2000, sudah dijaga konsep ini, oleh mereka-mereka yang mengerti, dan diperjuangkan, maka orang-orang betawi ga perlu pindah. Tanah mereka bisa menjadi equity. Bisa disertakan menjadi modal. Tapi apa yang terjadi? Ekonomi dan bisnis di bisnis perumahan pun, tidak berwajahkan ekonomi kerakyatan ini. Yang ada adalah wajah ekonomi kapitalis. Bila tanah bisa dibeli murah, lalu bisa dijual dengan setinggi-tingginya, semahal-mahalnya, ngapaian lagi ngajak-ngajak kerjasama? Ya kuasai aja semua. Selesai.
Ya gitu deh, ekonomi kapitalis.

Udah gitu, andai tau, aroma ketidakfairan, ketidakadilan, begitu terasa. Emangnya ketika sekelompok kecil orang yang membeli tanah-tanah betawi lalu pake duitnya sendiri? Engga. Mereka juga pake bank. Lalu bank itu apa sih? Sekumpulan juga orang-orang yang sebenernya pada “patungan” naro di sana. Judulnya aja yang dijudulin beda. Yakni: tabungan, deposito. Intinya? Ya sama. Sama-sama sekumpulan besar orang berkumpul, atau dikumpulkan, yakni lewat segala ikhtiar dari bank tersebut, iklan, marketing, promo-promo hadiah dll., yang lalu mereka naroh dah duitnya di bank tersebut. Nah, sekelompok kecil orang ini, ternyata memakai juga konsep patungan ini, tapi untuk kepentingan mereka sendiri. Innaa lillaahi saya menyebutnya. Musibah.

Betul sih yang usaha juga orang Indonesia. Yang beli-beliin properti di atas tanah eks betawi juga orang Indonesia. Tapi entahlah.
Kadang, di atas lantai belasan, di satu hotel, saya melihat ke bawah. Susunan rumah-rumah penduduk, menggiurkan untuk kembali digusur, dan dijadikan hotel-hotel baru, apartemen-apartemen baru. Miris. Sedih. Geram. Seperti tak berdaya. Kenapa sih tidak ditawarkan yang lebih baik kepada mereka? Bahwa mereka tetap bisa di sana. Kasih selantai, setower, untuk mereka. Hidup mereka keangkat, dan kemudian mereka pun tidak kehilangan tanahnya. Setidaknya, mereka tetap di sana.

Ga paham dah.
Karena ga paham, ya biar aja saya nulis terus dulu.
Indonesia, entah dipandangan seperti apa. Seperti kue besar nan lezat, yang hanya bisa dinikmati bener-bener oleh segelintir orang saja. Maka tidak aneh. Di negeri super kaya sumber alam ini, masyarakat miskinnya begitu banyak. Sebab mereka hanya dijadikan objek saja. Bukan subjek.

Saya tertegun dengan the beauty of Islam.
Betul. Saya tertegun dengan the beauty of Islam. Cantik bener. Bahkan ketika Islam bicara tentang muamalah. Semua setara. Semua sederajat. Semua subyek. Bukan obyek. Begitulah yang saya tahu. Sehingga diajarkan oleh Allah, semua harus menghormati, menghargai, dan membela kepentingan satu sama yang lainnya.

Saudara punya rumah, rumah Saudara sendiri. Sertifikatnya atas nama saudara sendiri. IMBnya juga. Tapi rumah itu Saudara kontrakkan. Terus satu hari Saudara butuh duit, mendesak. Sehingga Saudara harus putuskan untuk menjual itu rumah. Islam ternyata mengajarkan, tawarkan dulu kepada si pengontrak. Mau ga? Mampu ga? Kalo dia ga mampu beli, keberatan ga rumah yang sedang dikontraknya ini dijual? Cari jalan musyawarahnya. Itu lah Islam. Ga maen jual aja.

Beda dengan ekonomi kapitalis. Saudara dianggap obyek. Bukan subyek. Kita dianggap obyek. Bukan subyek. Saya bisa nyontohin dikit. Misal di dunia telco, atau di dunia perbankan, Saudara pelanggannya, nasabahnya, tapi kalo tuh perusahaan mau dijual, diajak ngomong ga? Diajak ngomong juga ga ngerti ya? He he, ga lah. Insya Allah paham. Lah ini kan ga diajak ngomong. Tau-tau pindah tangan aja. Pemilik perusahaan, berganti. Padahal isi perusahaan itu adalah kita-kita? Lah koq ya bisa? Ya bisa. Sebab kita ini adalah obyek. Sedih kan? Parah menurut saya mah.
Ayo dah kita belajar. Belajar untuk pengusaha yang beradab, santun, dan berpihak kepada orang banyak.
Bisnislah, daganglah, tapi punyailah semangat, dan visi misi kerakyatan, keummatan. Insya Allah jadi berkah.
Akhirnya saya pun mencoba mengintip sedikit hikmah di balik sedekah dan zakat. Allah bener-bener ga mau kita melupakan saudara-saudara kita yang lain, yang ga mampu mikir bisnis, ngejalanin bisnis, ga punya kemampuan untuk ngelakuin usaha. Allah tetap “menitipkan” hak mereka di setiap hasil kita. Bahkan dengan zakat, Allah “memaksa”, yang kalau kita tidak keluarkan, maka azab-Nya akan turun. Subhaanallaah. Lagi-lagi merupakan cerminan the beauty of Islam. Cantik.

Sering saya bicara akhir-akhir ini. Mudah-mudahan bukan seperti orang yang sok jago. Seorang kepala daerah, bahkan bisa memprotek peluang bisnisnya, peluang usahanya, peluang ekonominya, dari segala peluang dan sumber daya alam yang dimilikinya, untuk rakyatnya. Sebanyak-banyaknya, seluas-luasnya. Di luar urusan soal riba yang pro kontra, toh udah ada yang syariah. Jika kemudian ada peluang usaha, ekonomi, perdagangan, tinggal mengundang semua pegawai negerinya, pegawai swastanya, dan keluarga-keluarganya dari pegawai-pegawai negeri dan swasta, termasuk ribuan guru-guru dan keluarga-keluarganya, untuk patungan. Kalau ga sanggup, gandeng bank untuk membiayai mereka-mereka untuk bisa ikut patungan. Bayaran angsurannya, diback-up oleh pemda. Maka dahsyat banget hasilnya.
Apalagi ada doa bareng, he he he. Doa bareng biar bisa dijalanin bareng. Subhaanallaah.

Ini mirip di skala mikro, perumahan dengan 1000 rumah misalnya, sama-sama membangun pasar. Patungan membangun pasar. Patungan membangun industri kuliner. Patungan membangun pertokoan. Katakanlah yang sederhana, patungan diriin warteg, warsun, warbet, warpad. Apa tuh? He he he, warung tegal, warung sunda, warung betawi, he he, dan warung padang. Patungan beli sawah, lalu bikin grosiran beras sendiri. Toh 1000 rumah di perumahan itu ya bakal membuka peluang ekonomi. Ya udah, duduk bareng, patungan bareng, lalu jalan bareng.
Inilah sedikit pengetahuan tentang re-distribusi asset.
Alhamdulillaah.

Saya belajar kemudian mengimplementasikan sedikit, ke dunia nyata. Saya atas izin Allah, mudah-mudahan, menggulirkan konsep patunganusaha dan patunganaset ke dalam satu tindakan.
Tulisan setelah ini, rada-rada promo neh. Rada-rada jualan, he he he. Malah bener-bener jualan kali. Tapi ya ga apa-apa dah. Kita butuh tindakan nyata, contoh nyata. mudah-mudahan bisa diduplikasi untuk tindakan-tindakan nyata di kemudian harinya. Yakni, andai berhasil, dan insya Allah dengan izin Allah bisa berhasil, maka apa yang saya paparkan ini, bukan jualan semata, tapi ajakan untuk bersama-sama mewujudkan apa yang disebut dengan ekonomi kerakyatan.

Doakan saya dan kawan-kawan agar lurus. Aamin.
Maka bismillaahirrahmaanirrahiim, berikut ini penjelasannya.


Pertengahan 2012 saya menggulirkan patungan 1jt per orang. Untuk bisnis. Waktu itu belom tau bisnisnya apa. Mau doa aja dulu, sambil langsung ngebut aksi. Modalnya ya bener-bener bismillaah dah. Alhamdulillaah, 1500 orang kurang lebihnya ngumpul. Di kemudian hari bimbingan Allah betul-betul nyata. Allah menghadiahkan saya, kesempatan take-over hotel dan apartemen di deket bandara, yang kemudian saya jadikan tindakan nyata PatunganUsaha. Lagi-lagi semua adalah bimbingan-Nya semata. Saya sering memotivasi diri saya dan sahabat-sahabat, bahwa kelar hotel ini, bismillaah lagi kita akan coba masuk ke industri pesawat, televisi, pertambangan, transportasi darat, laut, dan lain-lain. PD, percaya diri, dengan kebersamaan, patungan, apa-apa jadi murah.

Pesawat misalnya, harganya 400 milyar sampe 1T kurang lebihnya. Tapi begitu dibagi 10jt orang? Ya kecil juga. Ga banyak. Apalagi jika diback-up dunia perbankan syariah, maka bisa banget orang kemudian ikut memiliki pesawat. Kayak jamaah umrah, jika diberi kesempatan ikut memiliki pesawat untuk umrah, ya pastinya bisa banget. 1 bulan puluhan ribu orang terbang untuk umrah. Kalo 40 ribu orang saja sebulan, lalu duit umrahnya diputer dulu untuk bisnis pesawat, bisa langsung beli 2. 1 tahun 10 bulan keberangkatan umrah. Itu sama dengan 400rb. Kalo rata-rata 20jt, maka 20 pesawat baru bisa dimiliki. Dalam 5 tahun, bisa setara tuh dengan Garuda, maskapai penerbangan terbesar di Indonesia. Jamaah umrah, 5 tahun bisa 100 pesawat. Sedangkan Garuda konon punya 92 pesawat yang melayani 17 penumpang. Garuda terus membeli pesawat. Juga maskapai-maskapai lain. Nah, kita salaman aja, he he he, sama semua maskapai, agar pesawatnya pake punya kita. Pesawat patungan. Gitu.

Sebab base nya adalah bisnis. Insya Allah Patungan yang digulirkan juga adalah punya penawaran keuntungan. Dan semua gagasan ekonomi kerakyatan, ekonomi patungan, ya tetep jangan mengabaikan soal keuntungan. Faktor resiko bisnisnya, ya tetap juga dihitung. Toh kepada pemodal segelintir tetap yang dipaparkan dari peluang yang ada, ya keuntungannya. Dengan juga memaparkan resikonya.
Ada dua konsep patungan yang saya lagi semangat untuk menggulirkan. Yakni PatunganUsaha (PU) danPatunganAset(PA).

PatunganUsaha langsung ada returnnya. Langsung ada bagi hasilnya. Sebab dana-dana dari sahabat-sahabat diinvestasikan kepada bisnis yang langsung jalan. Proyek PatunganUsaha yang pertama: Hotel dan Apartemen Haji dan Umrah. Di deket bandara Soetta – Jakarta. Maret mudah-mudahan sudah bisa operasional. Akhir Desember atau pertengahan 2013 mudah-mudahan insya Allah sudah bisa dibagi bagi hasil tahun pertamanya. Kira-kira dari kami 8% per tahunnya. Insya Allah dalam 10tahun kita ada program Cash-back/Refund dengan ilustrasi mudah-mudah-mudahan insya Allah bisa mencapai 100%. Bila Saudara naroh 12jt (1 lembar PU), maka tiap tahun dapat kurang lebih Rp.960.000. Dan di tahun ke-10, dipulangin lagi yang 10jt nya. Jika tidak tercapai cash-back di tahun ke-10, mudah-mudahan di tahun ke-12. Insya Allah dah. Jika tidak juga, ya kita jual aja hotel dan apartemennya, he he. Terus dibagi rata dah, he he. Tanah kosong aja didiemin 1-2 tahun pasti naik. Apalagi ada bangunannya, dan bangunannya bangunan jalan. Maksudnya, beroperasi. Dan lokasinya di deket bandara. Strategis tentunya. Mudah-mudahan tidak sampe lah kita jual. Kecuali malah kita kembangin lagi di daerah-daerah deket sana atau di lokasi-lokasi deket bandara lainnya.

Hotel dan apartemen ini sudah berdiri. 2 tower. Masing-masing 12 lantai. Sedang dalam proses finishing ME&interior. Kita bekerjasama dengan Operator Hotel ternama: Horison. Insya Allah dah, Allah ridho.

Segmentasi pasarnya yang utama, kita bidik:
 
1. Jamaah Calon Haji dan Umrah yang akan berangkat ke Baitullah. Kita urus mulai dari penjemputan di bandara Soetta, ke hotel/apartemen, lalu kembalikan lagi ke bandara. Di sela-sela menunggu keberangkatan, kita adakan tambahan manasik/pengajian/motivasi haji umrah. +kunjungan ke pesantren Daarul Qur’an untuk minta didoakan oleh ustadz-ustadz penghafal Qur’an, syeikh-syeikh penghafal Qur’an, dan anak-anak santri yang sedang menghafalkan Qur’an. Insya Allah ini menarik. Andai diketahui oleh seluruh calon jamaah haji dan umrah, niscaya mereka akan datang 1-2 hari sebelum keberangkatan, agar bener-bener didoakan. Bila perlu, datangnya bersama seluruh keluarga. Supaya yang didoakan bukan hanya yang berangkat. Tapi seluruh keluarga. Insya Allah.

Di hotel dan apartemen kita ini, segmented. Insya Allah pasarnya beda, dan akan bisa ngambil pasar hotel dan apartemen banget-banget. Insya Allah yakin! Bukankah salah satu modal kalo mau unggul di bisnis adalah diferensiasi? Perbedaan produk? Insya Allah di sini kita udah menang. Ditunjang dengan armada kendaraan berbagai merek, mudah-mudahan penjemputan juga bisa sangat nyaman. Jamaah bila mau, kita bahkan bisa urus oleh-olehnya, tau-tau udah di bagasi pesawat pulang, he he he.
2. Hotel training dan pelepasan. Gini ya, yang pengalaman dengan umrah dan haji, sebelum terbang, suka bikin dinner bareng, breakfast bareng, atau lunch bareng. Di sana, mereka saling berpamitan dan berpelukan dengan keluarganya. Nah, ini juga bisa kita fasilitasi. Ball-room tambahan hotel dan restoran kita, dengan parkir yang insya Allah luas, memungkinkan untuk ini. Dan umumnya, hotel-hotel itu emang laku dan dicari orang untuk tempat pertemuan dan training. Lagi-lagi, diferensiasi kita mudah-mudahan memenangkan kompetisi.

Ini semua ide saya loh, he he, atas izin Allah tentunya. Sombong ya? Ga ah. Norak iya, ha ha ha. Bercanda ya… Tapi ini bener. Gini, banyakan mana jamaah yang berangkat sama yang tidak atau belum berangkat? Banyakan yang tidak atau belum berangkat. Nah, segmentasi ini bila dibidik, bagus banget. Sekalian nolongin mereka-mereka. Banyak yang ga paham, bahwa hanya dengan “uang kecil” disertai dengan doa-doa dan riyadhah khusus, banyak jamaah yang semula ga mungkin berangkat, jadi mungkin. Asal disiplin melakukannya. Bahkan bukan hanya berangkat sendiri, tapi berangkat bersama orang-orang yang dikasihinya. Dunia training kayak gini, terbuka banget. Ribuan orang bisa kita fasilitasi trainingnya, dan dikawal riyadhahnya. Insya Allah dulu kita susah cari tempatnya. Sekarang sudah punya sendiri.

Dan masya Allah nya, tempat ini punya Saudara juga. Jadi betapa banyak juga pahala dan kebaikan yang mengalir.Trainingnya pun bukan hanya urusan seputar haji umrah saja. Tapi training-training lain, dari para motivator-motivator muslim lainnya, dengan berbagai topik dan tema. Kalau sebelumnya mereka-mereka nyewa hotel lain, ini hotel kita. Di mana keuntungannya pun kita dedikasikan kepada pembibitan penghafa Qur’an. Berkah dah.
3. Kunjungan Pondok. Kunjungan pondok ini menarik. Pada masa Daarut Tauhid dulu, aa Gym, jumlah orang yang berkunjung ke Geger Kalong, mencapai 160rb jamaah setiap tahunnya. Mereka ini terdata dan menginap. Menginapnya di tempat-tempat yang dikoordinir oleh DT, sampe ke masyarakat-masyarakat sekitar bikin hotel kecil. Insya Allah, kesuksesan ini jadi uswatun hasanah. Semoga pahalanya mengalir buat aa Gym dkk DT juga. Insya Allah cukup banyak yang mau kunjungan ke pondok Daarul Qur’an, dan destinasi-destinasi wisata seputar Jakarta dan Banten, juga Bogor, Sukabumi, Jawa Barat. Baik dari kunjungan masyarakat domestik hingga jamaah internasional seperti muslim Malaysia, Brunei, Singapore, dan negara-negara Asean hingga Amerika, Australia dan Eropa. Juga negara-negara Timur Tengah. Bener-bener berpotensi. Hotel dan apartemen kita menjadi tempat transit atau pusat penginapan dan persinggahan. Di mana dari kita lah kemudian mereka diatur kemana-kemananya. Subhaanallaah dah. Insya Allah saya yakin kita bisa melakukannya.
4. Hotel Solusi. He he, yang ini, kekhasannya Daarul Qur’an. Banyak yang kepengen berobat dan mencari solusi dengan Qur’an. Sebagian yang tahu langsung Daarul Qur’an, langsung berangkat menuju Daarul Qur’an. Dari sekedar bersepi-sepi (i’tikaaf) di Daarul Qur’an, hingga doa dan bahkan belajar. Bisa berhari-hari pula. Untuk urusan jodoh, anak keturunan, pekerjaan, dan lain-lain. Dan saya bersama kawan-kawan berusaha tidak menjadikan Daarul Qur’an tempat mistik. Simsalabim, Kun Fayakuun lalu mereka datang bermasalah pulang jadi tidak bermasalah. Tidak. Kita semua pakai logika dan step yang teratur. Nyunnah, begitu bahasa kami. Tidak serta merta. Ada tahapan-tahapannya. Nah, insya Allah, pasarnya pun luar biasa.

Bukan berarti kita kepengen “memperjualbelikan” kesempatan dalam kesempitan. Tapi di situ ada opprtunity, ada kesempatan. Daripada diambil sama yang ga jelas, ya mending kita aja yang ambil. Sekali lagi, bagian untuk program pembibitan penghafal Qur’annya, jelas. Dan ini wajar. Di mana rumah sakit, yang tidak menyediakan penginapan, maka keluarga mampu, ngambil kamar di hotel-hotel terdekat. Lalu rumah sakit ini secara cerdas bikin pavilyun untuk penginapan keluarga pasien.Ada kyai besar yang terapi di Jakarta. Karena terapi berbulan-bulan. Kyai ini dan keluarganya menyewa rumah untuk menemani dan bulak balik terapi. Masya Allah. Alangkah mulianya bila kita bisa membantu.

Dalam ceramah-ceramah saya tentang PU, saya mengatakan, bahwa hotel dan apartemen kita insya Allah diinstall ngaji 24 jam. Dari sini saja, mudah-mudahan dah bisa mendatangkan ketenangan dan kenyamanan. Insya Allah diprogram shalat-shalat malam, shalat-shalat dhuha, pengajian-pengajian, bagi semua yang “bermasalah”, sehingga keberkahan Qur’an, pengajian, bisa membuat yang bermasalah selesai masalahnya. Dengan tidak mikirin saja penyakitnya, masalahnya, insya Allah sudah bisa tenang. Dan ketenangan, awal untuk selesainya masalah dan kesembuhan.
5. Penginapan Walisantri. Insya Allah mudah-mudahan ribuan santri memenuhi Pesantren Daarul Qur’an. Kalau mereka berkunjung, kemana mereka menginap? Masya Allah, berkah buat sekeliling. Sebab para walisantri menginap di penginapan-penginapan yang mereka kenal. Insya Allah dengan armada yang nyaman, mereka bisa dilayani pergi dan pulang menengok anak-anaknya di pesantren Daarul Qur’an. Dan masya Allahnya, bukan hanya pesantren Daarul Qur’an kan? Sebab pesantren di Jabodetabek betul-betul banyak. Subhaanallah dah. Sebuah peluang yang wajar direspon positif.Semua ini membuat kami bismillaah yakin, bisa dah menjalankan amanah investasi Sahabat semua. Jika kemudian return yang didapat lebih dari 8%, setelah dibagi manajemen, kami pun bismillaah mendedikasikan balik keuntungannya untuk visi misi mulia kita, untuk mensupport program pembibitan penghafal Qur’an. Tidak semua santri orang tuanya bisa bayar. Yang tidak bisa bayar inilah kita dedikasikan. Tidak semua guru Qur’an juga hidupnya terangkat. Mudah-mudahan dengan program-program pengangkatan ekonomi, statuta guru-guru Qur’an bisa kita bantu. Insya Allah.
Sekarang saya masuk menjelaskan PatunganAset.

PatunganAset diproyeksikan untuk “ngamanin” aset-aset dalam bentuk tanah yang paling pokoknya. Sebel aja. Setiap lahan kosong koq ya dimiliki “orang lain”.
Ngiri ya?
Engga juga.

Tapi kalo bisa dikuasai oleh kita, kan zakatnya juga ga kemana. Keuntungannya juga ga kemana. Tapi kalo yang beli “orang lain”, kita ga paham buat apa itu tanah-tanah. Saya melihat, dengan kebersamaan, berjamaah, insya Allah bisa. Ada tanah 1-2ha, ngangkat sendirian barangkali bermasalah. Wong duit kawan-kawan ya kebanyakan duit kecil aja.

Tapi duit kecil ini bila dikumpulkan, akan jadi gede juga. Sesuai prinsip “Duit kecil, rame-rame beli aset BESAR”. Coba bayangkan, proyek pertama ini, tanah seluas dan sebesar 4-7ha di deket bandara. Saudara punya duit Rp 2.000.000,-, ga akan bisa bahkan memberi tanda jadi.

He he, masa 4,7ha DP nya Rp. 2.000.000,-. Ga pantes banget-banget. Dan pastinya ga diterima. Tapi ribuan orang berkumpul dari seluruh tanah air. Insya Allah dah bisa ngangkat ini tanah.
Ini dia namanya Patungan Aset.

Terus apa yang akan dilakukan di atas tanah aset ini?

Insya Allah banyak. Kita doa dulu, istikhoroh dulu. Tanya-tanya ahli dulu. Termasuk Yang Paling Ahli. Yakni Allah sendiri. Sambil jangan lupa, langsung ngamanin asetnya. Dengan bersegera patungan aset.
Simpel. Saya sempet curcol, curhat colongan, bahwa tanah-tanah betawi banyak yang berpindah tangan, sebab dijual, atau “terpaksa” dijual sebab tidak ada proteksi dan kesejahteraan. Walo di beberapa kasus tidak sedikit sebab keserakahan, keterburu-buruan di satu urusan, yang menyebabkan harus pindah tangan itu tanah. Apapun, akhirnya saya jadi berpikir. Sebisa mungkin kita ga jual ini aset tanah. Kita sewakan saja. untuk perhotelan, pergudangan, perkantoran, pusat rekreasi, pusat kuliner, dan lain-lain. Keren. Bisa nanti konsepnya B-O-T. Built on Transfer. Sekian tahun gitu, jadi miliki kawan-kawan lagi yang pada patungan beli aset tanah 4,7ha ini. Beres dah.

Segitunya kita ga ambil langkah pun, yang namanya tanah, ya pasti naiknya. Ga mungkin turun. Insya Allah. Allah ga bikin bumi kedua. Sementara orangnya tambah banyak. Kebutuhan akan ruang, pasti meningkatnya. Subhaanallaah. Mudah-mudahan apapun yang dilakukan adalah bisa kita kembalikan lagi untuk kepentingan agama Allah, Rasulullah dan ummat. Aamiin.

Dengan Rp 2.000.000,- rupiah, Sahabat udah bisa ikut memiliki 1 meter tanah di sana.
Dan sekali lagi, dengan konsep patungan ini saya percaya diri. Mudah-mudahan 2 konsep ini dan 2 proyek pertama ini, disambut dengan baik oleh masyarakat. Sehingga insya Allah kita bisa kembangkan lagi ke proyek-proyek berikutnya. Aaamiin yaa Rabb.

Buat kawan-kawan yang ingin mengembangkan konsep patunganusaha atau patunganaset, jaga niat. Dedikasikan keuntungan buat Allah, Rasul-Nya, Islam, dan kemakmuran ummat yang ikut patungan, plus niatin supaya bisa sedekah banyak. Jauhi niat menipu. Mudah-mudahan kepercayaan ummat tidak dicederai segelintir orang yang punya niat tidak baik.

Sedangkan bagi masyarakat yang kepengen ikut patunganusaha dan atau patunganaset yang diselenggarakan oleh orang lain, selain saya, hendaknya juga hati-hati. Bukannya apa-apa. Saya sampaikan ini, sebab masyarakat kita gampang melakukan duplikasi. ATM. Amati, tiru, modifikasi, he he he. Tapi ngembanginnya suka sembarangan, ngawur, dan tidak tertutup kemungkinan niatnya memang tidak baik. Hati-hati. Apalagi jika return yang ditawarkan besar. Semoga Allah menyelematkan kita semua. Aamiin.

 
   
Penjelasan lebih detail perihal Patungan Usaha Penjelasan lebih detail perihal Patungan Aset
( 39.518 ) views  
 
     
 
 
Head Office Koperasi Merah Putih
Kawasan Bisnis CBD Ciledug. Blok A5 No.21, Jl. HOS. Cokroaminoto, Karang Tengah, Kota Tangerang 15157
Email : cspatunganusaha@yahoo.co.id
Telp. (021) 7345 1933
Jam Layanan ( 09.00 - 16.00 WIB Senin s/d Jum'at )
 
 
 
Koperasi Merah Putih ©2014 Support By :Bharatanet.com